Gorontalo, (RA1) – Dari pantauan PW. Investigasi dilapangan, Pemandangan tumpukan sampah kian merajalela di sejumlah titik Ibu Kota Kabupaten Pohuwato, Marisa. Bau menyengat, lalat berterbangan, menjadi keluhan harian warga.
Sampah rumah tangga, plastik terdapat di trotoar perempatan lampu merah Polsek dan telkom marisa, serta jembatan hingga sisa pasar dibuang sembarangan di pinggir jalan, lahan kosong, dan bantaran Sungai Marisa.
Kondisi paling parah terlihat di kawasan Pasar Marisa, sekitar Terminal, dan beberapa ruas jalan protokol lainnya.
Sementara itu PW. Investigasi tegas menyoroti lemahnya pengawasan dari tingkat kepala desa, camat, hingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pohuwato. Jadwal pengangkutan sampah disebut tidak rutin. Tempat Penampungan Sementara (TPS) resmi pun minim dan kerap overload.
“Kami sudah imbau, tapi tidak ada sanksi tegas. Kalau DLH lambat angkut, ya numpuk lagi,” dan kami juga sudah bayar retribusi mengapa sampah masi ada di wilayah pasar, kata salah satu warga yang enggan disebut namanya.
Hingga berita ini ditulis, DLH Pohuwato belum memberi keterangan resmi. Namun sebelumnya, DLH sering berdalih keterbatasan armada, personel, dan anggaran operasional TPA.
Tumpukan sampah di beberapa ruas jalan di Marisa makin merajalela. Selain merusak estetika ibu kota, kondisi ini juga mengancam kesehatan warga dan lingkungan jelas Tim PW. Investigasi.
Kami PW. Investigasi berharap ada langkah konkret: penegakan Perda Sampah, penambahan armada, jadwal angkut jelas, serta edukasi masif. Jika tidak, Marisa sebagai wajah Kabupaten Pohuwato akan terus dicap sebagai kota yang kumuh.


















